Selasa, 04 Agustus 2015

10 Bintang

Mereka seperti keindahan yang Tuhan titipkan padaku, melengkapi setiap perjalanan hidup yang penuh pelajaran berharga ini. seperti hiburan yang menyejukkan kala hati bersedih. seperti potret kebahagiaan sederhana yang penuh makna, membuatku tersadar yang kadang terlalaikan untuk bersyukur kepada Tuhanku, Allah SWT. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku.

Tak berbeda dengan anak-anak seusia mereka, mereka menyukai belajar, menyukai bermain, ingin tahu banyak hal-hal baru, suka ribut, dan banyak lainnya. namun, mereka yang disini bersamaku semuanya tidak lagi memiliki seorang "ayah", sosok tegas nan bijaksana yang memberikan kasih sayang dengan cara yang berbeda dari seorang ibu. kepala keluarga yang biasanya berjuang menghidupi mereka. bagi mereka kini ayah adalah sosok yang namanya selalu mereka sebut dalam do'a mereka. mereka berharap "ayah nanti di surga".

semoga mereka menjadi anak-anak yang sholeha....
bisa istiqomah menghafal al-qur'an 30 jus nya....
sehingga bisa memberikan kado terindah untuk ayah dan bunda....
kalian generasi-generasi penerus bangsa, nak...
tumbuhlah dengan baik..
meski cuaca tak selalu indah..
teruslah tumbuh..
bangsa ini menantikan bunga-bunga yang harum nan terjaga keindahannya..



_Rumah Kemandirian Akhwat_
Yayasan Yatim Mandiri Palembang

Rabu, 29 Juli 2015

Muridku

no title




Melihat tawamu
Memudarkan sepiku

Dalam pelukanmu
Hilang lukakku

Mendengar riangmu
Mewarnai hatiku


Kau begitu indah...
Hadirmu menginspirasiku...

kau adalah satu dari semua semangatku
Muridku sayang..



by.SiPink_U.A2

Rabu, 04 Maret 2015

Sarung Tangan Kenangan

Bismillah.

Saat membuka loker kecil lemariku, disana kutemukan sebuah sarung tangan yang pernah ku jahit lagi dengan tanganku sendiri. Oh, indah sekali kisahmu, temani aku diwaktu ku yang istimewa, lalu menjaga tanganku daripada menyentuh/disentuh yang bukan mahramku. Terima kasih. arigato. syukran.. J
Sehari menjelang wisudaku. Hari itu aku semakin khawatir karena belum juga menemukan toko yang menjual sarung tangan putih yang bisa kupakai saat penyematan cincin hadiah dari Universitas, lalu untuk dapat bersalaman dengan Pak Rektor, dan siapa pun yang akan menyerahkan ijazah juga memindahkan kuncirku. Akhirnya, sangat bahagia diriku ketika sebuah toko tak jauh dari tempatku tinggal menjual apa yang ku cari. Namun, ternyata yang dijual benar-benar kebesaran di jari-jari tanganku. Alhasil, karena siang itu keluargaku datang dari desa dan juga sorenya kami pergi hingga malam untuk menikmati kota Darussalam meski sesaat saja. Allah, selama perjalanan tetap aku memikirkan sarung tangan. Gimana besok kalo gak ada sarung tangan, benar-benar takut aku rusak keberkahan wisudaku yang sudah lama ku nanti. Akhirnya, dapatlah ide malam itu untuk menjahit dan menggunting sarung tanganku. Allah, sungguh bahagia.
Ketika mungkin diantara teman-temanku sibuk mencari salon untuk make up atau berhias atau memasang sanggul atau jilbab yang dikreasi. Tapi sehari menjelang wisuda justru aku gunakan untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta yang sudah lama sekali tak pernah aku rasakan. Allah, sungguh indah. Hingga saat malam ketika telah sampai dari pergi bersama mereka, aku justru disibukkan dengan menjahit sarung tanganku. Bukan sibuk mau pergi subuh-subuh ke salon. J
Alhamdulillah fikirku. Ibu tak menuntutku untuk ber make up atau berhias seperti orang lain. Thanks mom.
Paginya pun, masih bisa menikmati tahajud dan membaca Al-Qur’an, juga tak terburu-buru sholat subuh, bahkan masih bisa dhuha sebelum pergi. Allah, sungguh terima kasih atas nikmat itu. Wisuda, dengan tetap mengutamakan hal-hal kecil yang selama ini kita jaga supaya Allah tetap memberikan keberkahannya sungguh lebih nikmat teman... sangat indah dan merasa besyukur atas itu. Tetap menjaga kesyarian jilbab, tetap tidak tabbaruj, tetap menjaga jabat tangan dengan rektor sekali pun, tetap terjaga ibadah. Lalu benar selalu apa yang disebutkan Allah berulang-ulang pada surah Ar-Rahman, “maka nikmat Tuhanmu manakan yang kamu dustakan?”.

semoga membuat kita terus berfikir untuk terus menjaga komitmen yang telah dijaga...
semoga menginspirasi buat yang mau wisuda.. 

wisdom_one

“Seperti Lebah yang apa yang ada pada dirinya bermanfaat”
“seperti itu pula aku ingin”

Sayang rasanya saat mendapatkan ilmu sedikit
Tapi tak ku biarkan ilmu itu bertambah
Itulah mengapa aku berbagi, semoga yg sedikit itu
Membuat Allah ridho lalu menambahnya lagi..
beginilah alasanku berbagi

Pasti kita semua sangat familiar dengan kata “Hikmah” atau “wisdom” in English. Ya, aku tertarik dengan kata itu beberapa waktu ini. sebuah kata yang sederhana namun sarat akan makna.
“the ability to use your knowledge and experience to make good decisions and judgements”- kemampuan menggunakan pengetahuan dan pengalamanmu untuk membuat keputusan dan penilaian yang baik, yaa seperti itulah definisi wisdom saat ku buka kamus cambridge di destopku.  Lalu apa hikmah menurut bahasa kita?? Ahh, rupanya aku belum sampai sana punya referensi, namun aku ingat seorang ustad mengungkapkan pengertian hikman pada sebuah forum. Hikmah adalah sesuatu yang kamu dapatkan setelah sesuatu hal yang baik atau buruk terjadi. Artinya, sudah terjadi dulu “hal” itu baru ada yang namanya “hikmah”. Lalu ada sebuah atsar dari abu Burdah yang tercatat dalam buku catatan berwarna hijau milikku... begini bunyinya :
“Hikmah adalah barang hilang setiap muslim. Hendaknya mereka memungutnya dimanapun mereka menemukannya”
Rupanya kata itu benar-benar indah maknanya meski mungkin tak seindah bagaimana kita mendapatkannya. Itu baru awal, mengapa? Karena aku ingin kita sama-sama belajar untuk memetik hikmah dari setiap perjalanan hidup kita. Ah, puitis sekali rasanya.
Aku punya cerita,
Ketika itu, tepatnya saat aku mengikuti sebuah tes di sebuah sekolah islam di kota Darussalam waktu lalu, aku mendapati beberapa soal yang sangat menarik perhatianku, mungkin kalian juga pernah merasakan yang sama atau punya pengalaman yang sama. Baiklah, begini kurang lebih dua pertanyaan yang masih melekan tajam di ingatan.
“Siapakah orang pertama yang mengajarkanmu Al-Qur’an?”
Lalu dibawah pertanyaan itu diberi beberapa jawaban kemungkinan yang memang terjadi, seperti ini contohnya :
a.       Ibu                         c. kakek                                e. guru ngaji
b.      AyAh                     d. nenek              f. Guru di sekolah dst
Kalo kamu yang ditanya jawabnya apa??
Aku tebak, guru ngaji ya??
Atau ibu? ayah? Oh, bersyukurlah.... alhamdulillah, karena kita bisa mengaji lantaran mereka.
                Bagaimana dengan pertanyaan satu ini...
“dimana pertama kali kamu belajar sholat?”
a.       Di rumah                                                              c. di mushola/masjid dst
b.      Di sekolah / madrasah / pesantren
Emm.. aku tau, pasti jawabanmu “b” ya...?? sama kalo gitu. Mari bersyukur “Alhamdulillah”. Dimana pun kita belajar pertama kali, itu membuat kita bisa sholat sekarang. ^_^
                Aku tau kalian sangat cerdas, pasti sampai disitu sudah bisa mengambil pelajaran bukan?? Ya, sedikit pelajaran yang ingin aku bagi.
Pertanyaan itu tak  hanya menarik buat aku tapi juga setelah itu membuat ku berfikir dan sedikit merasa sedih. Kenapa bukan Ibu atau ayah ku yang mengajarkan ku pertama kali mengenal huruf-huruf al-quran? Lalu mengapa bukan rumah tempatku pertama kali belajar sholat? Fikiran ku melayang kesana, namun Demi Allah, tidaklah aku ingin mengajak kalian lalu marah kepada keluarga kita, sungguh tidak benar. Semoga aku, dan kita semua selalu berhusnuzon kepada mereka. Bisa jadi, mereka bisa mengajarkannya pertama kali kepada kita, namun mereka ingin kita mendapatkan penyampaian dan pelajaran yang lebih baik daripada jika mereka yang mengajarkan. Bisa jadi, mereka pernah ajarkan tapi kita masih kecil dan lupa. Ya kan? Dan teruslah berfikir positif tentang itu.
Disini, Aku hanya ingin mengajak kita berfikir, jikalah kita sangat menginginkan orang tua kita sebagai guru utama yang mengajarkan kita Al-Qur’an, mengenalkan kita dengan Allah, Rasulullah, dan islam. Kemudian, kita sangat merindukan suasana rumah yang seperti madrasah atau pesantren atau sekolah yang disana kita dapatkan banyak pengetahuan. Maka mungkin kita sendiri yang harus memulainya dari diri kita sendiri. Dari diri kita masing-masing. Tak guna menyesali yang telah berlalu, namun bagamana kita bisa memperbaikinya. Supaya nanti kita menjadi Ibu yang terbaik untuk anak-anak kita, mampu menjadikan rumah kita sebagai madrasah yang baik untuk anak-anak kita. Lalu, saya juga berfikir bagaimana jika kita sudah hampir menikah?? Juga sudah punya anak? Aku fikir tak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Ya gak?? ^_^
Ya Allah, yang PadaMu Jiwa-jiwa ini tergenggam. Yang mengetahui apa-apa yang kami tidak ketahui. Pemilik Ilmu-ilmu yang tertebar di bumi dan pada apa-apa yang diciptakan. Semoga kami Engkau izinkan untuk tak pernah berhenti belajar mendapatkan ilmu-ilmu, hikmah-hikmah, serta kebaikan-kebaikan yang telah Engkau tebarkan di bumi-Mu. Semoga kami dapat menjadi istri, anak, ibu, tetangga, saudara, menjadi manusia yang sholeh soleha, yang melahirkan generasi-generasi yang sholeh-sholeha yang nantinya mengisi dan menggoncangkan bumiMu dengan kalimat Laa Ilaa haillallah. Aamiin.

Lewat jari-jari ini aku menulis, membagi kisah yang tak sanggup kunikmati sendiri. Mohon kalian memaafkan atas kelancangan tulisan yang ditulis oleh seorang yang masih munafik ini jika aku banyak menuliskan hal-hal yang rupanya salah dalam pemahaman dan lainnya yang mungkin juga masih belum bisa aku sendiri lakukan. Semoga tulisan ini menjadi doa untuk ku supaya menjadi orang yang lebih baik lagi. Semoga Allah mengampuni setiap salah yang tergores sengaja atau tidak kemudian memberiku hidayahNya. Terakhir, Semoga bermanfaat dan memberi hikmah.

Senin, 03 November 2014

Surat cinta untukmu adikku

Surat cinta untukmu adikku

Palembang, 23 oktober 2014
Dear yang istimewa,

           
berbahagia aku menjadi seorang ayuk/kakak.
           
Sebuah catatan yang ingin menjadi pengingat untukmu duhai adik tersayang, yang mungkin belum bisa terungkap dari bibir ayunda mu yang sedang mengumpulkan kebaikan sebagai penebus dosa-dosa. pernah terbesit dalam benakku, aku sangat ingin menjadi seorang adik, memiliki seorang ayuk/kakak yang bisa aku ajak bicara dari hati ke hati, aku ajak menangis, aku ajak bercanda, aku ajak pergi jalan-jalan, dan bisa membimbingku untuk mengenal lebih banyak tentang Tuhanku. namun, ternyata Allah ingin aku lah yang menjadi seperti yang aku inginkan ketika aku terlahir menjadi anak pertama di keluargaku. 
lalu apakah aku sudah menjadi seorang ayuk yang sudah ideal seperti yang aku impikan terhadap ayuk/kakak ku yang dulu pernah aku inginkan?
mungkin jawaban kalian adik-adikku (Pina Sari, Tria Wulandari, Putri, dan Loga) adalah "BELUM" bukan??
aku meraskannya jauuhhh di dalam hartiku.
           
Selama 21 tahun aku hidup, nyatanya aku belum pernah kalian ajak menangis bersama. aku belum menjadi ayuk yang bisa engkau ajak berbagi dengan masalahmu. jujur adikku, kapan pun aku siap mendengarkan masalahmu yang ingin kau bagi, daripada kau ceritakan masalahmu kepada orang lain apalagi kepada laki-laki yang belum ada ikatan denganmu. adikku, aku bicaralah padaku meski mungkin aku tak lebih baik dari orang lain yang bisa memberikan solusi, tapi aku akan berusaha sebisaku. jika memang belum bisa berbagi denganku, engkau punya Allah, Rabb mu yang 24 jam siap mendengar dirimu. duhai adikku yang aku cintai karena Allah.. aku ingin engkau dekat denganku, namun tidak lebih dekat dibanding engkau dengan Tuhanmu. 
           
Adikku, maafkan jika selama aku ini aku belum bisa menjadi ayuk yang ideal untukmu. mungkin selama ini justru engkau yang lebih dewasa daripada diriku. mungkin selama ini aku jarang membuatmu tersenyum dan bahagia. mungkin selama ini aku belum banyak menasehatimu dalam kebaikkan. 
           
adikku, terima kasih ya.... telah banyak memberi warna indah dalam hidupku, telah banyak mengajariku arti kesabaran, telah banyak memberiku pelajarn-pelajarn berharga dalam hidupku,, "terima kasih Tuhan karena Engkau jadikan mereka adik-adikku"
           
Dinda, aku ingin kita menjadi satu alasan Allah memasukkan ayah dan Ibu ke syurga-Nya. ^_^
           
jagalah dirimu,,, daripada kesenangan dunia yang hanya sementara yang membuatmu lalai kepada Tuhanmu. jaga auratmu daripada pandangan laki-laki yang tidak halal bagimu. yukkk kita buat bangga Ayah dan Ibu dengan menjadi anak-anak yang sholeh sholeha.
bisa jadi ayuk tidak lebih baik dari kalian, ingatkan ayuk juga ya saat ayuk jatuh dan lalai, dan ketika ayuk lupa dengan apa yang ayuk pernah nasehatkan padamu..  
semoga kelak kita bersama di syurga-Nya..


yang menyayangimu,
yang sedang memperbaiki diri,

ayundamu, Umitasari

Kamis, 18 September 2014

think



Baru tadi membuka websitenya "indonesia mengajar".. membaca beberapa pengalaman teman-teman muda-mudi yang begitu super semangat menjadi seorang pengajar, aku menjadi iri rasanya.
Meraka punya waktu yang banyak untuk menyebarkan ilmu yang mereka miliki, semakin berpengalaman dan mengerti bagaimana berbagi...
Lalu, aku berfikir disini, apa yang bisa lakukan untuk mengabdi pada bumi yang Allah telah hamparkan banyaakkk sekali peluang untuk semakin mencintai-Nya dengan apa2 yang telah Allah ciptakan di bumi dan seisinya ini.

Bisakan aku menjadi bagian yang memberikan arti bagi orang lain...??
sesegera mungkin, ingin aku temukan jawabannya.

Rabu, 12 Maret 2014

Kenapa mesti pake Kaos Kaki???

Mengapa harus pakai kaos kaki???

Sempat membaca sebuah blog yang isinya menanyakan tentang mengapa seorang muslimah menggunakan kaos kaki??
hari ini aku tertarik membahas tentangnya... mencoba menguraikan secara sederhana apa yang aku tau dan aku fahami tentangnya,, semoga menjadi manfaat bagi yang membaca dan sedang mencari tau...
fenomena sekarang ini, sering banget ditemuin seorang akhwat yang udah jilbab panjang, pokoknya uadah berpakaian syar'i,,, tapi pas liat kakinya "telanjang" gak tertutup....  sayang bangettt ya.... :)
pakaian yang terbaik bg seorang muslim adalah pakaian taqwa... taqwa berarti seperti apa yang Allah perintahkan ya???

dalam Al-Qur'an Surah An-Nur : 31, Allah berfirman yang artinya:
"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra suami mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan sesama islam mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentnag aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang beriman agar kamu beruntung."

nah,,,, sekarang coba jawab, kenapa klo sholat kita pake mukena???? terus kenapa yang boleh kelihatan cuma wajah dan telapak tangan?? kan kaki kita gak boleh kelihatan kan kalo sholat?? itu karna semuanya aurat kita kecuali yang bukan itu tadi (wajah,kedua telapak tangan)...

truss.... Allah juga berfirman dalam al-qur'an surah an-nur : 30 bahwa laki-laki yang beriman diperintahkan untuk menjaga pandangannya sm seperti perempuan ya...... nah, coba bayangin ketika laki-laki nundukin pandangan pas ketemu perempuan trus pas nunduk ngeliat kakinya.... ayooo.....
seorang ustadzah dari jurusan psikologi pernah berkata pada kami selaku peserta waktu itu, beliau menceritakan dari hasil penelitian diketahui bahwa ternyata kaki kita bagian belakang itu ketika memakai sandal apalagi yang high akan mengalami penekanan dan memunculkan warna merah hatii... itu ternyata bisa menunjukkan kesuburan kita sebagai seorang wanita.... emmm.... gimana klo yang liat itu berfikir kemana-mana..... :) duhai ukhti, saudariku yang aku syangi.....
kita gak pernah tau apa dan bagaimana seorang laki-laki memandang dan memikirkan tentang kita. karena itu alangkah indahnya kita sama-sama saling menjaga..... menjaga aurat kita, menjaga hati kita, menjaga fikiran kita,, menjaganya karena Allah, supaya Allah pun menjaga kita dari penglihatan lelaki juga manusia.

dalam sebuah hadist dikatakan :
"Apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung baju mereka? Nabi SAW bersabda : Hendaklah ia turunkan satu jengkal (dari mata kaki) Ummul Mu'minin berkata: "kalau begitu akan tersingkap telapak kaki kami, wahai rasulullah" Nabi bersabda: "turunkan satu hasta dan jangan dilebihkan" (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah istiqomahkan kita dalam usaha mencari ridho Allah di buminya ini.... Aku ingin Allah cinta terhadapku..... terhadap kita semua.... sholeha.....

Wallahu 'alam....